Tampilkan postingan dengan label Mujahid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mujahid. Tampilkan semua postingan
| share: Jumat, 13 Juli 2012 |
Unknown
No comments
|
12 September 1984, 400 Syuhada Tersungkur Dengan Darah Membasahi Bumi

Tragedi Tanjung Priok, 12 September 1984
Bagi masyarakat dunia, September mengingatkan akan tragedi kemanusiaan 11 September. Dimana bagi sebagian orang barangkali masih mengasosiasikan aksi itu dengan aksi keji kelompok Islam ekstrem yang salah jalan. Mengaitkan antara September, tragedi kemanusiaan, dan Islam di Indonesia juga ada ingatan kolektif mengenai Tragedi Tanjung Priok yang terjadi tepat seperempat abad yang lalu atau tepat dua puluh delapan tahun yang lalu. Bukan bermaksud untuk menguak luka lama bagi umat Islam Indonesia, tetapi ingatan ini penting untuk diingat daan menjadi pelajaran agar kita dapat berhati-hati dalam proses bernegara di negeri ini. Seperti kata Bung Karno, Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah!
Kisah*) mengenai tragedi ini dimulai pada Senin, 10 September 1984. Seorang oknum ABRI, Sersan Satu Hermanu yang diketahui non-Islam, mendatangi mushala As-Sa’adah untuk menyita pamflet berbau ‘SARA’. Namun tindakan Sersan Hermanu sangat menyinggung perasaan ummat Islam. Ia masuk ke dalam masjid tanpa melepas sepatu, menyiram dinding mushala dengan air got, bahkan menginjak Al-Qur’an. Warga marah dan motor Hermanu dibakar. Buntutnya, empat orang pengurus mushala diciduk Kodim. Upaya persuasif yang dilakukan ulama tidak mendapat respon dari aparat. Malah mereka memprovokasi dengan mempertontonkan salah seorang pengurus mushola yang ditahan itu, dengan tubuh penuh luka akibat siksaan.
Rabu, 12 September 1984. Mubaligh Abdul Qodir Djaelani membuat pernyataan yang menentang azas tunggal Pancasila. Malamnya, di Jalan Sindang, Tanjung Priok, diadakan tabligh. Ribuan orang berkumpul dengan semangat membara, disemangati khotbah dari Amir Biki, Syarifin Maloko, Yayan Hendrayana, dll. Tuntutan agar aparat melepas empat orang yang ditahan terdengar semakin keras. Amir Biki dalam khotbahnya berkata dengan suara bergetar, “Saya beritahu Kodim, bebaskan keempat orang yang ditahan itu sebelum jam sebelas malam. Jika tidak, saya takut akan terjadi banjir darah di Priok ini”. Mubaligh lain, Ustadz Yayan, bertanya pada jamaah, “Man anshori ilallah? Siapa sanggup menolong agama Allah ?” Dijawab oleh massa, “Nahnu Anshorullah! Kami siap menolong agama Allah!” Sampai jam sebelas malam tidak ada jawaban dari Kodim, malah tank dan pasukan didatangkan ke kawasan Priok. Akhirnya, lepas jam sebelas malam, massa mulai bergerak menuju markas Kodim. Ada yang membawa senjata tajam dan bahan bakar. Tetapi sebagian besar hanyalah berbekal asma’ Allah dan Al-Qur’an. Amir Biki berpesan, “Yang merusak bukan teman kita!”
Di Jalan Yos Sudarso massa dan tentara berhadapan. Tidak terlihat polisi satupun, padahal seharusnya mereka yang terlebih dahulu menangani (dikemudian hari diketahui, para polisi ternyata dilarang keluar dari markasnya oleh tentara). Massa sama sekali tidak beringas. Sebagian besar malah hanya duduk di jalan dan bertakbir. Tiba-tiba terdengar aba-aba mundur dari komandan tentara. Mereka mundur dua langkah, lalu … Tanpa peringatan terlebih dahulu, tentara mulai menembaki jamaah dan bergerak maju. Gelegar senapan terdengar bersahut-sahutan memecah kesunyian malam. Aliran listrik yang sudah dipadamkan sebelumnya membuat kilatan api dari moncong-moncong senjata terlihat mengerikan. Satu demi satu para syuhada tersungkur dengan darah membasahi bumi. Kemudian, datang konvoi truk militer dari arah pelabuhan, menerjang dan melindas massa yang tiarap di jalan. Dari atas truk, orang-orang berseragam hijau tanpa nurani gencar menembaki. Tentara bahkan masuk ke perkampungan dan menembak dengan membabi-buta. Tanjung Priok banjir darah.
Pemerintah dalam laporan resminya yang diwakili Panglima ABRI, Jenderal L. B. Moerdani, menyebutkan bahwa korban tewas ‘hanya’ 18 orang dan luka-luka 53 orang. Namun dari hasil investigasi tim pencari fakta, SONTAK (SOlidaritas Nasional untuk peristiwa TAnjung prioK), diperkirakan sekitar 400 orang tewas, belum terhitung yang luka-luka dan cacat. Sampai dua tahun setelah peristiwa pembantaian itu, suasana Tanjung Priok begitu mencekam. Siapapun yang menanyakan peristiwa 12 September, menanyakan anak atau kerabatnya yang hilang, akan berurusan dengan aparat.
Sebenarnya sejak beberapa bulan sebelum tragedi, suasana Tanjung Priok memang terasa panas. Tokoh-tokoh Islam menduga keras bahwa suasana panas itu memang sengaja direkayasa oleh oknum-oknum tertentu di pemerintahan yang memusuhi Islam. Kecurigaan terutama ditujukan terhadap salah satu Jenderal yang dianggap telah lama memusuhi ummat Islam, L. B. Moerdani. Suasana rekayasa ini terutama sekali dirasakan oleh ulama-ulama di luar Tanjung Priok. Sebab, di kawasan lain kota Jakarta sensor bagi para mubaligh sangat ketat. Namun entah kenapa, di Tanjung Priok yang merupakan basis Islam itu para mubaligh dapat bebas berbicara bahkan mengkritik pemerintah, sampai menolak azas tunggal Pancasila. Adanya rekayasa dan provokasi untuk memancing ummat Islam dapat diketahui dari beberapa peristiwa lain sebelum itu, misalnya dari pembangunan bioskop Tugu yang banyak memutar film ”maksiat” diseberang Masjid Al-Hidayah. Tokoh senior seperti M. Natsir dan Syafrudin Prawiranegara sebenarnya telah melarang ulama untuk datang ke Tanjung Priok agar tidak masuk ke dalam perangkap. Namun seruan ini rupanya tidak sampai kepada para mubaligh Priok. Dari cerita Syarifin Maloko, ketua SONTAK dan mubaligh yang terlibat langsung peristiwa 12 September, ia baru mendengar adanya larangan tersebut setelah berada di dalam penjara. Rekayasa dan pancingan ini tujuannya tak lain untuk memojokkan Islam dan ummatnya di Indonesia.
Dari kisah itu tentunya ada banyak pelajaran yang dapat diambil, terutama bagi ummat Islam Indonesia. Di era baru sekarang ini, ABRI atau TNI telah dibatasi wewenangnya dan kelompok aparat lainnya diberikan wewenang lebih pada beberapa hal. Persaingan para Jenderal, Korps, Angkatan, tentu tak ada hubungannya dengan kita. Tapi jika kita terlalu percaya dan tidak waspada, maka terima dan hadapilah semua permainannya…
*) Kisah ini dikutip dengan sedikit perubahan dari http://www.ummah.net/
*) Kisah ini dikutip dengan sedikit perubahan dari http://www.ummah.net/
| share: Senin, 02 Juli 2012 |
Sieun Gaming
No comments
|
Kisah Wanita Mempersembahkan Suami dan Anaknya Menjadi Syuhada'
| Akan kami kenang kalian bersama para Mujahid yg lebih dulu pergi dan engkau akan seperti Harum kisah wanginya para Syuhada |
Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada sayyidil anam, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Abu Qudamah al-Syami adalah seorang
laki-laki yang Allah tanamkan kecintaan kepada jihad di jalan-Nya.
Beberapa peperangan melawan Romawi telah ia ikuti. Keberanian dan
kemahirannya dalam berperang tidaklah diragukan lagi.
Pada suatu hari Abu Qudamah duduk di masjid Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wasallam
menceritakan sebagian kisah perangnya. Orang-orang yang duduk di
majelisnya memintanya untuk menceritakan kisah paling menakjubkan yang
pernah ia jumpai di medan jihad. Kemudian mulailah ia menceritakan kisah
paling menyentuh dan menakjubkan yang pernah ia temui.
Pada suatu hari saat ia berangkat
berjihad menghadapi tentara Romawi, ia melewati kota Raqqah di pinggiran
sungai Farrat. Tujuannya ke sana untuk membeli beberapa ekor unta untuk
berjihad.
Saat berada di Raqqah, ada seorang
wanita mendatanginya. Wanita tadi mengabarkan, ia ingin bershadaqah
dengan rambutnya untuk jihad fi sabilillah. Ia telah memotong rambutnya
yang panjang, lalu ia keraskan dengan lumpur. Ia meminta Abu Qudamah
untuk menerima rambutnya tersebut untuk digunakan sebagai cemeti dan
tali kendali kuda para mujahid.
Wanita tadi memberitahukan, suaminya
telah berjihad dan menemui kesyahidan. Anak-anaknya juga demikian,
mereka berjihad dan telah menemui kesyahidan. Tidak tersisa dari anak
laki-lakinya kecuali seorang remaja yang baru berumur 15 tahun. Walau
umurnya masih kecil tapi ia rajin puasa dan shalat malam, hafal
Al-Qur'an, ahli berkuda dan pandai berperang. Anak tersebut adalah
remaja paling tampan dan paling shalih di antara anak remaja
seumurannya.
Abu Qudamah menunggu kedatangan remaja
tadi cukup lama, namun tak kunjung tiba. Lalu ia dan pasukannya
meninggalkan kota Raqqah untuk berjihad melawan pasukan Romawi.
Perjalanan tersebut memakan waktu berhari-hari. Di tengah perjalanan
tersebut, pasukan bertemu dengan remaja yang diceritakan wantia tadi.
Remaja mujahid tersebut berada di atas kudanya. Ia berbincang dengan Abu
Qudamah. Mengenalkan diri, ia anak wanita yang telah ditemuinya. Ayah
dan saudara-saudaranya telah lebih dulu berjumpa dengan Allah sebagai
syuhada'. Ia sangat ingin mendapatkan kesyahidan sebagaimana mereka.
Sebenarnya Abu Qudamah ingin menolak
anak tersebut karena usianya yang masih belia. Ia khawatir akan
keselamatannya. Tapi anak tadi terus mendesak agar bisa ikut berjhad
dengannya. Ia mengaku memahami trik perang Romawi dan pandai memanah,
hafal Al-Qur'an, memahami sunnah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Ia menyampaikan ingin menjadi seorang syahid putra dari bapak yang syahid (Syahid bin Syahid).
Sang remaja mengabarkan kepada Abu
Qudamah bahwa ibunya menitipkan dirinya kepadanya. Sang bunda memintanya
agar bersungguh-sungguh mencari kesyahidan. Tidak boleh lari menghindar
dari orang kafir dan kabur dari medan perang. Hendaknya ia menghibahkan
dirinya kepada Allah dan memohon kepada-Nya supaya bisa berdampingan
dengan ayahnya, saudara-saudara dan pamannya.
Abu Qudamah terenyuh dengan apa yang
didengarnya. Ia meminta kepada sang anak untuk selalu bersamanya. Posisi
pasukan mujahidin sudah mendekati pasukan Romawi saat matahari
tenggelam. Saat itu pasukan mujahidin sedang berpuasa. Maka anak remaja
yang pandai berkuda itu memasakkan makanan berbuka untuk mereka.
Setelah semua usai maka anak remaja tadi
tidur sangat nyenyak. Abu Qudamah memandanginya. Tiba-tiba anak
tersebut tertawa di tengah tidurnya. Abu Qudamah pun memanggil
sehabat-sahabatnya untuk melihat anak yang tertidur sambil tertawa tadi
karena terheran-terheran dengan pemandangan tersebut.
Saat anak remaja terbangun, Abu Qudamah
dan para sahabatnya menanyakan perihal sebab tertawanya saat tidur. Ia
memberitahu mereka, ia telah bermimpi dalam tidurnya sehingga membuatnya
tertawa.
Ia menceritakan, telah bermimpi berada
di taman yang hijau. Di tengah-tengahnya terdapat istana dari emas dan
perak. Di dalam istana tersebut terdapat gadis-gadis cantik yang wajah
mereka laksana bulan. Saat mereka melihatnya, mereka menghampirinya
untuk menyambutnya. Lalu ia mengulurkan tangannya kepada salah seorang
dari mereka. Namun mereka berkata kepadanya, "Jangan terburu-buru.
Sesungguhnya kamu itu suami bagi wanita yang diridhai, ia berada di
dalam istana."
Kemudian ia naik ke dalam istana, ia
melihat gadis yang wajahnya laksana matahari. Kecantikannya membuat mata
terbelalak dan kesemsem padanya. Gadis itu memberitahu, remaja itu
untuk dirinya dan dirinya untuk remaja tersebut. Saat remaja tadi
mengulurkan tangannya kepadanya, ia berkata padanya: "Jangan buru-buru.
Waktu yang dijanjikan antara aku dan engkau adalah besok saat shalat
Zuhur. Maka bergembiralah!"
Keesokan harinya, di pagi-pagi buta
pasukan mujahidin bertemu dengan pasukan Romawi. Peperangan pun pecah.
Romawi menggempur pasukan mujahidin. Remaja penunggang kuda bersama
saudara-saudaranya dari kalangan mujahidin memberikan perlawanan yang
tak kalah kuatnya. Khususnya remaja tersebut, ia berperang dengan penuh
keberanian sampai berhasil membunuh cukup banyak dari pasukan lawan.
Peperangan berlangsung cukup lama. Jatuh korban dari dua pihak. Namun, peperangan berakhir dengan kemenangan kaum muslimin.
Abu Qadamah mulai mencari keberadaan
remaja penunggang kuda. Saat ditemukan ia dalam kondisi terluka. Darah
mengucur dari badannya. Sementara debu menutupi tubuhnya.
Saat menghampirinya, sang remaja
menuturkan bahwa mimpinya benar-benar terbukti. Seorang bidadari yang ia
lihat dalam mimpinya berdiri di sisi kepalanya menunggu ruhnya keluar.
Remaja tersebut meminta Abu Qudamah agar
membawa bajunya yang berlumuran darah kepada ibunya. Supaya beliau tahu
bahwa anaknya tidak menyia-nyiakan wasiatnya. Lalu ia mengucapkan dua
kalimat syahadat dan ruhnya keluar. Ia berjumpa dengan Allah sebagai
syahid. Para mujahidin mengafaninya dengan bajunya, lalu menguburkannya
di tempatnya.
. . . sang remaja menuturkan bahwa mimpinya benar-benar terbukti. Seorang bidadari yang ia lihat dalam mimpinya berdiri di sisi kepalanya menunggu ruhnya keluar. . .
Abu Qudamah kembali ke Raqqah. Ia lewat
di depan rumah wanita, ibu remaja syahid. Ia berjumpa dengan adik
wanitanya yang berdiri di depan pintu rumahnya menanyakan kepada
mujahidin yang baru datang tentang kabar saudaranya yang ikut berjihad.
Kemudian Abu Qudamah minta izin untuk bisa berbicara dengan ibunya.
Sang ibu keluar. Saat melihat Abu
Qudamah, ia berkata kepadanya: "Wahai Abu Qudamah, engkau datang untuk
berbela sungkawa atau menyampaikan kabar gembira?"
Abu Qudamah menjawab, "Apa beda antara kabar gembira dan bela sungkawa?"
Wanita tersebut menjawab, "Jika anakku
pulang bersama kalian dalam keadaan selamat berarti engkau sedang
berbela sungkawa. Jika anakku terbunuh sebagai syahid fi sabilillah
berarti engkau datang memberi kabar gembira."
Abu Qudamah berkata kepadanya,
"Bergembiralah, sesungguhnya Allah telah menerima hadiahmu, anakmu telah
berjumpa dengan Allah sebagai syahid."
Sang ibu sangat gembira dan berkata,
"Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah Yang telah menjadikannya sebagai
simpanan bagiku pada hari kiamat." Wallahu Ta'ala A'lam.
. . . "Jika anakku pulang bersama kalian dalam keadaan selamat berarti engkau sedang berbela sungkawa. Jika anakku terbunuh sebagai syahid fi sabilillah berarti engkau datang memberi kabar gembira" . . .
* Kisah antara Abu Qudamah dengan wanita
yang jujur imannya dan sangat sabar ini terdapat dalam Kitab Masyari'
al-Asywaq, Syaikh Ahmad bin Ibrahim bin al-Nuhhasal-Dimasyqi
al-Dimyathi, gugur sebagai syahid pada tahun: 814 Hijriyah: I/258-290.
Kisah ini juga disebutkan Imam Ahmad bin al-Jauzi al-Dimasyqi dalam
kitabnya: Suuq al-'Arusy wa Uns al-Nufus.
[Di kutip dari : PurWD/voa-islam.com]
| share: |
Sieun Gaming
No comments
|
Tidak Sedekah dan Tidak Jihad, Dengan Apa Kamu Masuk Surga?
| Para Mujahid Sedang Menunaikan Ibadah Sholat |
Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Surga itu mahal harganya. Kenikmatannya
tak tertandingi. Sedikit saja kenikmatannya melebihi seluruh kenikmatan
dunia dan seisinya. Siapa yang mau masuk surga maka –pada dasarnya-
harus membelinya dengan sesuatu yang paling berharga yang dimilikinya.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ غَالِيَةٌ أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ الْجَنَّةُ
"Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal. Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu adalah surga." (HR. Al-Tirmidzi, beliau berkata: hadits hasa. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih al-Jami': 6222)
Sil'ah adalah barang yang ditawarkan dalam perdagangan. Sedangkan Allah 'Azza wa Jalla telah tawarkan surga kepada hamba-hamba-Nya agar mereka membelinya dengan jiwa dan harta mereka. Allah Ta'ala berfirman,
إِنَّ
اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ
بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ
وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ
وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا
بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
"Sesungguhnya Allah telah membeli
dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga
untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh
atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam
Taurat, Injil dan Al Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya
(selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah
kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar." (QS. Al-Taubah: 111)
Al-'Imad ibnu Katsir berkata: "Allah
Ta'ala mengabarkan bahwa Dia memberi ganti dari jiwa dan harta benda
para hamba-Nya yang beriman dengan surga karena mereka telah rela
mengorbankannya di jalan-Nya. ini merupakan karunia, kemuliaan dan
kebaikan-Nya." Oleh karenanya al-Hasan al-Bashri dan Qatadah mengatakan:
"Allah telah membeli mereka, demi Allah, Dia menghargai mereka sangat
mahal."
Al-Hasan berkata lagi, "Dengarkan
jual-beli yang menguntungkan yang telah Allah ajak setiap mukmin
melakukan jual-beli ini." Dalam perkataan beliau yang lain,
"Sesungguhnya Allah telah memberikan dunia kepadamu maka belilah surga
dengan sebagiannya." (Dinukil dari tafsir al-Baghawi)
. . . Allah 'Azza wa Jalla telah tawarkan surga kepada hamba-hamba-Nya agar mereka membelinya dengan jiwa dan harta mereka. . .. . . Mereka menyerahkan jiwa dan harta mereka untuk Allah dengan berjihad di jalan-Nya melawan musuh-musuh-Nya untuk meninggikan kalimat-Nya dan memenangkan agama-Nya. . .
Apa yang harus diberikan oleh seorang
mukmin agar dapat surga? Mereka menyerahkan jiwa dan harta mereka untuk
Allah dengan berjihad di jalan-Nya melawan musuh-musuh-Nya untuk
meninggikan kalimat-Nya dan memenangkan agama-Nya. "Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh." (QS. Al-Taubah: 111)
Allah Ta'ala berfirman lagi tentang jual beli yang menguntungkan ini,
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ
مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ
فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ
لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ
طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
"Hai orang-orang yang beriman,
sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan
kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan
Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah
yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan
mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir
di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang
baik di dalam surga Adn. Itulah keberuntungan yang besar." (QS. Al-Shaff: 10-12)
Ini merupakan pesan dan arahan Dzat
Mahapenyayang kepada hamba-hamba-nya yang beriman, supaya mereka
melakukan jual beli menguntungkan yang bisa menyelamatkan dari azab yang
neraka yang pedih dan mendapatkan kenikmatan yang abadi. Jual beli
tersebut adalah "Kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya."
Iman yang sempurna adalah pembenaran
terhadap perintah-perintah Allah dalam hati yang diikuti dengan
ketundukan anggota badan mengerjakan amal-amal shalih. Dan di antara
amal shalih yang paling agung adalah berjihad di jalan-Nya. Oleh
karenanya Allah berfirman sesudahnya, "dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu."
Yaitu dengan menginfakkan sebagian harta dan mengorbankan jiwa untuk
menghadapi musuh-musuh Islam dengan tujuan untuk menolong agama Allah
dan meninggikan kalimat-Nya.
Pada ringkasnya untuk mendapatkan
kenikmatan surga dan dihindarkan dari siksa neraka seseorang harus
beriman kepada Allah dan Rasul-Nya lalu berjihad di jalan Allah dengan
harta dan jiwa-Nya. Lalu kenapa masih ada orang yang bercita-cita masuk
surga tapi masih pelit dengan hartanya dan terlalu sayang dengan jiwanya
dari berjihad di jalan Allah?
. . . ringkasnya untuk mendapatkan kenikmatan surga dan dihindarkan dari siksa neraka seseorang harus beriman kepada Allah dan Rasul-Nya lalu berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa-Nya. . .
. . . kenapa masih ada orang yang bercita-cita masuk surga tapi masih pelit dengan hartanya dan terlalu sayang dengan jiwanya dari berjihad di jalan Allah?. . .
Al-Hakim telah meriwayatkan dalam Mustadraknya (no. 2421) dari hadits Basyir bin al-Khashashiyyah Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Aku pernah mendatangi Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam untu berbai'at masuk Islam. Maka beliau mensyaratkan kepadaku:
تَشْهَدُ
أَنْ لَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
وَتُصَلِّي الْخَمْسَ ، وَتَصُوْمُ رَمَضَانَ وَتُؤَدِّي الزَّكَاةَ
وَتَحُجَّ الْبَيْتَ وَتُجَاهِدُ فِي سَبِيْلِ اللهِ
"Engkau bersaksi tiada tuhan (yang
berhak disembah) selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya,
engkau shalat lima waktu, berpuasa Ramadhan, mengeluarkan zakat, berhaji
ke Baitullah, dan berjihad di jalan Allah."
Dia melanjutkan, "Aku berkata: 'Wahai
Rasulullah, ada dua yang aku tidak mampu; Yaitu zakat karena aku tidak
memiliki sesuatu kecuali sepuluh dzaud (sepuluh ekor unta) yang
merupakan titipan dan kendaraan bagi keluargaku. Sedangkan jihad,
orang-orang yakin bahwa yang lari (ketika perang) maka akan mendapat
kemurkaan dari Allah, sedangkan aku takut jika ikut perang lalu aku
takut mati dan ingin (menyelamatkan) diriku."
Kemudian Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menggenggam tangannya lalu menggerak-gerakkannya. Lalu bersabda,
لَا صَدَقَةَ وَلَا جِهَادَ فَبِمَ تَدْخُلُ الْجَنَّةَ ؟
"Tidak shadaqah dan tidak jihad? Dengan apa engkau masuk surga?"
Basyir berkata, "Lalu aku berkata kepada Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, aku berbaiat kepadamu, maka baitlah aku atas semua itu." (Imam al-Hakim berkata: Hadits shahih. Al-Dzahabi menyepakatinya.
Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam
memberikan pelajaran berharga kepada Basyir, juga kepada kita semua,
tentang hakikat baiat atas Islam. Bahwa Islam tidak mencukupkan bagi
pemeluknya untuk memperhatikan diri pribadinya sendiri, berleha-leha
setelah ikrar atas keislaman. Tapi ia harus memperhatikan agamanya dan
memperjuangkan syriatnya dengan harta dan jiwanya. Karenanya kita lihat,
saat Basyir mengajukan keberatan atas dua syarat yang berkaitan dengan
pengorbanan jiwa dan hartanya –padahal ia siap menerima syarat-syarat
lainnya-, maka Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam
menggenggamkan tangannya dan tidak mau menerima baiat, karena barang
dagangan Allah itu mahal harganya. Oleh karenanya beliau menyampaikan,
"Orang yang tidak mau mengorbankan jiwa dan hartanya di jalan Allah,
maka dengan apa ia masuk surga?" Wallahu Ta'ala A'lam.
[Di kutip dari : PurWD/voa-islam.com]
| share: Selasa, 26 Juni 2012 |
Unknown
No comments
|
Ingat 1924
hari ini telah kubaca berita
di tivi dan media cetak
tiada beda dengan sebelumnya
cerita luka penuh duka
melihat umat tak berdaya
izzah telah lenyap
tak ada wibawa
kaum muslimah meratap
dihinakan para penjajah
kaum muslim terbata-bata
tiada kawan yang menyelamatkan
palestina, setiap hari terus berdarah
irak telah luluh lantah
dihancurkan para lintah
yang haus dan serakah
mengapa kita diam saja?
kesempitan... terus menerus menerpa
kesulitan hidup di mana-mana
bencana musibah seakan kita lupa
itu hanya gejala alam
padahal suatu teguran
sebelumnya tak pernah terjadi keburukan
kecuali ketika kita telah lupa aturan
dari Allah sang Pencipta kehidupan
kita lebih suka pada ketentuan buatan
manusia padahal ia tak berdaya
tapi mengapa kita seolah lupa
tak mau ikuti hukum sang Penata
Dialah Allah ta'ala
ingat teman....
sejak 1924saat Mustafa sang pengkhianat
telah hancurkan kita
khilafah bubar
negara bangsa tersebar
ide rusak nasionalisme terhembuskan
racun demokrasi telah melenakan
akhirnya kita kesurupan
lupa aturan tuhan
tak ada lagi kata untuk bicara
kecuali kita berusaha
kembalikan izzah dalam jiwa kita
bangunkan umat dari kelelapan
menuju kejayaan yang dirindukan
umat bersatu... terapkan islam
berdakwah ke seluruh alam
menyampaikan pesan
risalah kerasulan
ayo...! kawanku
tak ada lagi waktu
untuk membisu
atau merasa tuna rungu
ayo bersatu
dengan imam yang satu
terapkan aturan itu
jangan banyak menunggu!
bersambung....
Label:
Mujahid
| share: |
Unknown
1 comment
|
Teruntuk semua ibu para mujahid: Ibu..anakmu seorang mujahid
Bissmillah..pesan berikut ini didedikasikan untuk semua ibu
para mujahid, yang disampaikan oleh Abu Ibraheem, berasal dari Jerman,
seorang mujahid Taliban di Waziristan, Uzbekistan, melalui sebuah
video yang dirilis oleh Jundullah Media baru-baru ini yang
berhasil diterjemahkan oleh Arrahmah.com, semoga pesan-pesan berikut
ini dapat membuka hati dan semangat para ibu dan para orangtua umumnya,
terkhusus ibunda yang putra putrinya pergi hijrah dan jihad fisabilillah.
***
Sebuah pesan dari tanah yang diberkahi, Tanah para syuhada..
Aku dedikasikan kata-kata ini ketika aku sedang Ribath, menghadapi musuh, di jalan Allah aku berjihad, untuk meninggikan kalimat-Nya.
Ibu...anakmu seorang mujahid.
"Ibu..tetaplah tabah"
Bissmillahirrahmanirrahim, Alhamdulillahi Robbil'alamin wa
sholatu wa salam ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa sohbihi ajma'in, amma
ba'du.
Untuk ibuku...Untuk ibuku yang terhormat
Dan untuk semua ibu yang putra-putrinya hijrah fisabilillah
Kata-kata berikut ini adalah dari lubuk hatiku yang dalam, untuk ibu
dan semua ibu. Maka bukalah hatimu untuk kata-kata yang datangnya dari
hati.
Wahai ibu..setiap kali engkau mendengar telepon berdering, engkau
segera menuju telepon sementara hatimu berdebar-debat, engkau segera
menuju telepon itu dengan harapan untuk mendengar suara anakmu.
Wahai ibu..aku jauh, jauh dari dirimu untuk waktu yang lama, dahulu
mungkin kau tak pernah merasakan ini, ketika aku absen dari rumah hanya
satu atau dua hari. Tapi sekarang? Aku berpisah darimu sejak
bertahun-tahun.
Ibu, Ketika aku memikirkanmu, kerinduan menyelimuti hatiku, aku
mengingat kasih sayangmu, kesabaranmu, tentang cintamu kepadaku, hal-hal
itu darimu yang membuatku mengetahui, membuatku merasakan bahwa
engkaupun disana memikirkanku, "anakku..wahai dimana anakku?", mungkin
engkau menangis dalam kesedihan, mengangis dalam ketidakpastian, naluri
keibuanmu menyebabkan kau menangis,"anakku..dimana ia? Di gunung
manakah ia?, di gua manakah ia melalui malam?, pohon apakah yang
menaunginya?, apakah sahabat-sahabatnya jujur kepadanya?" (mungkin
engkau berpikir seperti itu)
Semua pertanyaan-pertanyaan tersebut menyita perhatianmu, dimana
matamu yang indah dipenuhi air mata. Aku rindu dekapanmu, aku rindu
kehangatanmu, Ibu..aku merindukanmu..
Seorang anak merindukan ibunya, adalah fitrah dari Allah.
Aku merindukan kelembutan tanganmu, yang lelah karena merawatku, engkau
merasa lelah sehingga semua urusanku menjadi baik-baik saja, engkau
tidak tidur sehingga aku tidur, engkau tidak makan sehingga aku makan,
engkau menghilangkan rasa hausku, engkau menghapus air mataku, engkau
adalah penyemangat dalam langkah pertamaku, engkau mengajariku untuk
makan dengan tangan kanan, dan engkau memberitahuku "katakanlah bissmillah sebelum engkau makan, dan Alhamdulillah setelah engkau selesai".
Ibu..aku merindukanmu..
Ibu..apakah engkau berpikir aku tidak mencintaimu?
Engkau berpikir aku tidak ingin melihatmu?
Aku akan memberikan apapun untuk memelukmu, bagaimana mungkin aku
melupakan ibu seperti dirimu?, saat aku bicara, aku memiliki bayanganmu
dalam benakku. Dalam pandanganku, engkau adalah perempuan tercantik,
engkau memiliki senyum terindah, menyejukkan mata, matahari dalam
hatiku, Ibu.. aku tidak melupakan apapun tentangmu!
Aku tidak melupakan apapun!
Aku tinggal di dalam perutmu selama sembilan bulan, saat lahir, aku
tidak melupakan apapun! Dan tidak peduli dimanapun aku berada, aku
berdo'a untukmu.
"Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (Al Qur'an 17:24)
Ibu..kata-kataku tidak dapat menggambarkan sebesar apa cintaku
kepadamu. Pastinya, engkau bertanya terhadap dirimu sendiri, mengapa aku
meninggalkanmu, ayah, teman-temanku, dan orang-orang di sekitarku.
Ibuku sayang..anakmu meninggalkanmu, dan engkau bertanya terhadap
dirimu sendiri "mengapa". Ibu..alasan mengapa aku meninggalkanmu,
dengarlah ibuku sayang..karena anak-anak kecil yang polos tak berdosa,
yang engkau lihat di televisi, sangat muda dan tak berdosa. Mereka di
bom oleh orang-orang pembawa kerusakan. Orang-orang perusak yang hati
mereka sepenuhnya kosong dari rasa kasih, mereka tidak membeda-bedakan
(dalam menyerang), mereka membom seluruh kota dan desa, anak-anak, para
wanita, dan para orangtua. Ibu..rumah-rumah sakit penuh sesak dengan
jasad-jasad tak dikenali (hancur) karena senjata kimia mematikan, dan
jumlah kematian meningkat dari hari ke hari. Ibu, bagaimana aku bisa
tinggal diam melihat semua itu?
Ketika aku melihat tragedi di Palestina? Lebih dari 60 tahun dan
situasi disana semakin memburuk dan memburuk. Ibu, ketika air matamu
jatuh di pipimu, darah-darah dari para ibu mengalir di Jalur Gaza,
pemandangan yang membuat hati-hati terenyuh. Ibu, bagaimana aku bisa
tinggal diam? Saudara-saudari kita dalam keadaan membutuhkan
pertolongan.
"Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela)
orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak
yang semuanya berdoa: "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini
(Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi
Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!". (Al Qur'an 4:75)
Ibu..bagaimana aku bisa tinggal diam setelah membaca surat dari ukhti
Fatimah?, Fatimah dari Irak dan suratnya dari penjara Abu Ghuraib. Ia
menulis dalam suratnya bahwa dalam satu hari, ia diperkosa oleh
sembilan tentara salibis Amerika selama sembilan kali dalam sehari!
Ia menulis bahwa banyak muslimah yang menjadi hamil karena diperkosa,
mereka harus menanggung anak hasil para binatang biadab!. Ibu, seorang
muslimah, seorang yang suci, wanita dari ummat Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam
diperkosa dan dihinakan dan dijebloskan ke dalam sel. Seluruh dunia
tahu bahwa pemandangan Abu Ghuraib dan apa yang pernah kita saksikan
adalah penjara yang terkenal dengan kekejamannya. Ibu, bagaimana aku
bisa tinggal diam? Ketika beribu-ribu saudara-saudariku di tahan di
penjara-penjara musuh-musuh Allah, mereka dipukuli, dicambuk, dan
disiksa!
Ibu..Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara." (Al Qur'an 49:10)
Tidak ada perbedaan diantara mereka, saudara-saudaraku yang sebenarnya, dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
"tidaklah beriman diantara kalian hingga kalian mencintai untuk
saudara kalian apa yang kalian cintai untuk diri kalian sendiri".
Ibu..hal pertama yang kau inginkan dan kau cintai untuk dirimu adalah
untuk hidup dengan bebas. Apa tindakan kriminal mereka? Apa dosa-dosa
mereka? Semua penyiksaan dilakukan hanya karena mereka beriman kepada
yang Maha Perkasa,
"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan
karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa
lagi Maha Terpuji." (Al Qur;an 85:8)
Melainkan karena mereka mengatakan, "Tuhanku adalah Allah",
"Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: "Tuhanku ialah Allah" (Al Qur'an 40:28)
Mereka dibelenggu di sel-sel tahanan yang gelap, mereka berteriak
meminta pertolongan, tetapi ummat ini sibuk, ummat sibuk dengan urusan
duniawi, atau bahkan sibuk dengan ibadah, ummat pergi dan melupakan
saudara-saudari mereka. Ibu..bayangkan, jika aku dalam tahanan sementara
anak-anak dari ummat ini duduk-duduk di rumah dan tidur dalam belaian
ibu mereka di tempat tidur yang nyaman.
Ibu.. bagaimana aku bisa tinggal diam dalam situasi semacam itu?
Para musyrikin menginjakkan kaki mereka di tanah-tanah berkah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.
Mereka mengisi tank-tank mereka dan pesawat-pesawat tempur untuk
membom saudara-saudari kita di Irak, sementara disana (penguasa Arab -red), beberapa mil dimana orang-orang mencium batu Hajar al aswad (Makkah, Saudi Arabia), kau akan berpikir, "Ya Allah!"
Ibu..bagaimana aku bisa tinggal diam? 50 negara menginvasi
Afghanistan, haruskah aku tinggal bersama mereka (para penjajah)? Atau
bahkan membayar pajak kepada mereka yang membunuh kaum muslimin?,
ibu..bagaimana aku bisa tinggal diam? Ketika aku mendapat kabar bahwa
rezim Pakistan membunuh ratusan muslimah di Lal Masjid (Masjid merah).
Ibu..Allah Subhanu wa Ta'ala berfirman:
"Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang
menghalanghalangi menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjid-Nya, dan
berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke
dalamnya (mesjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah).
Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang
berat." (Al Qur'an 2:114).
Ratusan saudari kita dibunuh dan ummat ini tetap diam!.
Ibu..bagaimana aku bisa tinggal diam? Ketika komunis di Chechnya
merenggut hijab dari kepala saudari-saudari kita!.
Ibu..bagaimana aku bisa tinggal diam? Pergi bekerja, belajar, makan
dan minum dengan enak, membeli pakaian baru? Sementara saudara-saudari
kita di Nigeria berbuka puasa Ramadhan dengan daun-daun dari pohon.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda bahwa seorang wanita dimasukkan ke neraka karena ia mengikat seekor kucing dan tidak memberinya makan".
Ibu..bagaimana aku bisa tinggal diam? Ketika orang-orang kafir
menginjak-injak Al Qur'an dan menghina Islam!. Ibu..bagaimana aku bisa
tinggal diam? Ketika Nabi kita tercinta ‘alaihi sholatu wa salam dihina.
Ibu..bagaimana aku bisa tinggal diam? Ketika mereka (kafirin) menaruh
simbol salib di atas masjid? Ibu..bagaimana aku bisa tinggal diam?
Tolong beritahu aku.
Di seluruh dunia, tidak ada negara yang menerapkan hukum-hukum Allah,
hukum dari yang Maha Mengetahui, Maha bijaksana. Sekarang di sini (di
tanah para syuhada), ada hukum yang diberlakukan dengan hukum Tuhan
semesta alam.
Orang-orang muslim diatur tetapi mereka tidak memerintah, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia" (Al Qur'an 12:40)
Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman:
"Bukankah Allah hakim yang seadil-adilnya? (Al Qur'an 95:8)
Para Thaghut/para penguasa murtad di negara-negara sekuler mengambil
musuh-musuh Islam sebagai teman-teman setia mereka dan sekutu-sekutu
mereka dan mengubah hukum Allah dengan hukum-hukum buatan orang kafir.
Mereka menyatakan yang halal menjadi haram dan yang haram menjadi halal.
Alkohol (minuman keras), club malam, perzinahan, dsb.
Mereka memerintahkan kemungkaran dan melarang kebaikan. Para munafiqun melawan Islam dan ummat muslim tidak menyadarinya!
Ibuku yang terhormat, bagaimana aku bisa tinggal diam, disaat Jihad telah menjadi Fardhul ‘ayn,
dimana Jihad adalah kewajiban. Ibu..jika aku tetap diam, bukan hanya
pengabaian terhadap Islam, dan situasi kaum muslimin, tetapi lebih dari
itu (pada hakikatnya) pengabaian terhadap hari akhir (kiamat), ketika
Allah akan menanyaiku apa yang aku telah lakukan disaat melihat situasi
saudara-saudariku dan apa yang telah aku lakukan disaat orang-orang
Yahudi mengambil alih kiblat pertama Sholat ummat Muslim (Al Aqsa), maka
dari itu aku pergi (berjihad), bertawakkal kepada Allah, untuk
mempersiapkan diriku dengan amal-amal shalih untuk memberi jawaban
kepada Allah. Demi Allah..aku tidak akan tinggal diam ketika ummat ini
memanggilku dengan mengucapkan firman Allah,
"Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela)
orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak
yang semuanya berdoa: "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini
(Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi
Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!". (Al Qur'an 4:75)
Ibu..aku berpisah darimu untuk sementara waktu dan waktu akan
berlalu, tempat bertemu kita di Surga nanti (insya Allah), yang lebarnya
seluas langit dan bumi, yang belum pernah dilihat oleh mata, dan belum
pernah didengar oleh oleh telinga, dan tidak dapat dibayangkan oleh
angan, misik, za fa ran, mutiara, permata, sungai madu, susu, dan
anggur, buah-buahan yang enak rasanya, kesenangan selamanya. Ibu, di
salah satu istanaku, aku akan mengunjungimu insya Allah dan
mengetuk pintumu, sebuah perkumpulan kembali di tempat yang jauh lebih
baik dari dunia ini, kehidupan tanpa dukacita, kehidupan tanpa akhir,
segalah puji bagi Allah.
"mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga
yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di
dalamnya; dan Itulah Sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal." (Al
Qur'an 3:136)
Ibu..hidup di dunia ini, hanya sementara dan hina, hina bagi siapa saja yang puas akannya.
"ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah
permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah
antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak,
seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan Para petani; kemudian
tanaman itu menjadi kering dan kamu Lihat warnanya kuning kemudian
menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan
dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia ini tidak lain
hanyalah kesenangan yang menipu." (Al Qur'an 57:20)
Tempat kita sebenarnya adalah akhirat, di tempat keabadian. Hidup di dunia ini hanyalah ilusi.
"Hai manusia, Sesungguhnya janji Allah adalah benar, Maka
sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali
janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang
Allah." (Al Qur'an 35:5)
Ibu..janganlah khawatir akan perpisahan kita, bersedihlah akan
situasi saudarai-saudari kita, bersedihlah akan anak-anak yatim-piatu
dan para janda, bersedihlah akan Al Aqsa. Ibu, jangan khawatir
tentangku, jika engkau hendak khawatir tentangku, maka hanya untuk satu
alasan: Apkah aku akan masuk surga atau neraka.
Seperti Ummu Rubayyi' ibunda Haritsah bin Suraqah radiallahu ‘anhu yang telah syahid pada saat perang Badr. Ia datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dalam keadaan menangis dan berkata, "Ya
Rasulullah beritahu aku keadaan Haritsah, dimana ia? jika ia berada di
Surga, aku akan bersabar atas kehilangannya, jika ia tidak disana, aku
akan meratapinya," Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
"Wahai ibu Haritsah, di surga terdapat taman yang banyak dan putramu
berada di Al-Firdaus Al-A'la (surga tertinggi)". HR. Buhkari
Ibu, dan semua ibu yang anak-anaknya berada di jalan kebenaran, di
jalan yang akan membawa kembali kejayaan Islam dan kaum muslimin,
berbanggalah, dan kepada para ayah terhormat, para orangtua yang
terhormat (yang menganggap jalan jihad adalah salah), jika kalian
berpikir jalan kami salah, bahwa kami telah mempermalukan kalian, bahwa
kami telah menyakiti kalian, bahwa kami telah menghancurkan keluarga,
bahwa kami (dalam pandangan kalian) hijrah dan jihad kami adalah sebuah
bencana, aku harus memberitahu kalian, "Jangan menyalahkan kami!"
Salahkanlah diri kalian sendiri, pemikiran-pemikiran tersebut datang karena kalian jauh dari Agama Allah walillahil hamd, dan tidak menigkuti sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.
Ada beberapa alasan mengapa kalian jauh dari dien ini, salah satunya
adalah karena kalian tinggal di negara-negara kafir, orang-orang yang
sepenuhnya jauh dari Agama Allah dan kalian hidup dibawah pengaruh
pemerintahan Tahghut, yang menganggap diri Islam tetapi tidak hidup
dengan Islam yang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam telah bawa kepada seluruh ummat manusia. Para orangtua yang terhormat, kalian berkata bahwa kami telah dicuci otaknya, Subhalallah!
Para orangtua yang terhormat, lihatlah hidup kalian: apa yang kalian
tonton? Apa yang kalian baca? Siapa teman-teman kalian,
tetangga-tetangga dan dengan apa-apa yang membuat kalian sibuk untuk
menggapai cita-cita kalian. Lihatlah hidup kalian dan bandingkan dengan
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, dan kemudian tanyakan
kembali kepada diri-diri kalian, siapa yang sebeneranya telah dicuci
otaknya?!. Para orangtua yang terhormat, periksalah keimanan kalian
dengan ujian ini dan mendekatlah kepada Allah.
"janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu
bersedih hati, Padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi
(derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman." (Al Qur'an 3:139)
Teruntuk ibu, dan para ibu yang terhormat, dari Timur hingga Barat di
dunia ini, apakah kalian mengetahui kisah tentang Ummu Ibrahim seorang
yang berbudi luhur? Jadi bukalah hati kalian sebelum membuka telinga
kalian. Ummu Ibrahim Al Hashimiyah, seorang hamba yang berbudi luhur
dari Basra. Ketika itu musuh-musuh Islam menyerang kota-kota kaum
muslimin, para musuh berbaris (siap menyerang), maka dikumandangkanlah
"Hayya ‘ala al jihad!" (Marilah kita berjihad).
Kaum muslimin mendukung dan bergabung untuk jihad, seorang ulama dan
mujahid Abdul Ibn Zaid Al-Basri, menyampaikan Khutbah untuk
menyemangati jihad, seperti yang diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Abdul Wahid berkhotbah di jalan-jalan dan Ummu Ibrahim berada disana,
Abdul Wahid yang juga dipanggil (Ab Ubayd), mengingatkan ummat akan
kewajiban mereka dan akan besarnya pahala bagi orang-orang yang
berjihad, dan ia menggambarkan sosok bidadari yang digambarkan dalam Al
Qu'an dan As Sunnah dan kemudian membuat syair tentang mereka.
Ummat muslim terkagum-kagum dan memandang satu sama lain, mereka
bangkit dan bergairah di dalam hati-hati mereka, Ummu Ibrahim berdiri
dan mendatangi Abu Ubayd dna berkata, "Wahai Abu Ubayd, Wahai Abu Ubayd,
engkau tahu anakku Ibrahim? Para pria terhormat di Bassra menawarkan
putri-putri mereka, tetapi aku pikir Ibrahim terlalu baik untuk mereka,
tetapi demi Allah, aku menyukai gadis yang engkau gambarkan, aku akan
sangat bahagia untuk menikahakannya dengan anakku, wahai Abu Ubayd
kumohon gambarkan lagi tentangnya", Abu Ubayd membacakan sebuah syair,
dan ummat terkagum-kagum.
Ummu Ibrahim berdiri kembali dan mendatangi Abu Ubayd, "Wahai Abu
Ubayd, demi Allah aku sepenuhnya yakin dengan gadis tersebut, aku ingin
ia menjadi pengantin untuknya (Ibrahim), aku mohon kepadamu Abu Ubayd,
biarkan anakku menikahinya, aku memiliki 10.000 dinar dirumah dan akan
mengambilnya sebagai mahar, dan meneyrahkan Ibrahim bersamamu dalam
Jihad, sehingga Allah Subhanahu wa Ta'ala mengkaruniakan kesyahidan, dan semoga menjadi syafa'at
bagi ku dan ayahnya di hari kiamat", Abu Ubayd berkata, "wahai Ummu
Ibrahim, jika engkau berkeinginan demikian, itu akan menjadi
keberhasilan agung untukmu, ibrahim dan ayahnya, demi Allah itu adalah
keberhasilan yang agung".
Kemudian, Ummu Ibrahim memanggil anaknya dari kerumunan ummat,
Ibrahim mengatakan, "Labbayk ya Umma (aku disini wahai ibu)". Ummu
Ibrahim bertanya kepada Ibrahim, "anakku, apakah engkau senang untuk
menikahi gadis itu (bidadari)? Dengan syarat engkau korbankan jiwamu
dalam jihad?", Ibrahim menjawab, "demi Allah, aku akan sangat senang".
Ummu Ibrahim berdo'a kepada Allah, "Ya Allah, engakulah saksiku, bahwa
aku menikahkan anakku dengan gadis itu (bidadari), jika ia korbankan
jiwanya dalam jihad dan tak pernah kembali, maka terimalah ia Ya Rahman Ar rahiim".
Setelah berdo'a, kemudian ia bergegas pulang ke rumahnya dan kembali
dengan 10.000 dinar, ia membelikan Ibarahim seekor kuda baru dan sebuah
senjata yang bagus. Masha Allah!
Wahai ibu, lihatlah wanita ini dan perannya. Lihatlah peran pentingnya yang seorang muslimah dapat lakukan.
"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri
dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang
pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah
menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al
Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada
Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu,
dan Itulah kemenangan yang besar." (Al Qur'an 9:111)
Ummu Ibrahim datang untuk mengucapkan selamat tinggal kepada anaknya,
"anakku aku memperingatkanmu, anakku aku memperingatkanmu, jangan
lalai dan berikan yang terbaik di dalam pertempuran", ia memberi
Ibrahim kain kafan dan mencium keningnya dan berkata, "wahai anakku,
semoga Allah tidak akan mempersatukan kita kecuali diantara tangannya
Jalla Fi Ula di hari kiamat".
Para mujahidin memulai barisan jihad mereka. Kemudian Abdul Wahid
mengabarkan, "kami telah mencapai wilayah musuh dan menhadapi mereka dan
Ibrahim berada di barisan terdepan, ia bertawakkal kepada Allah,
menunggu dua hadiah, KEMENANGAN ATAU KESYAHIDAN!, ia menyerang para
musuh dan membunuh banyak dari mereka, ia adalah duri bagi daging-daging
para musuh", itu merupakan keinginan terakhir ibunya (semoga Allah
tidak akan mempersatukan kita kecuali diantara tangannya Jalla Fi Ula di
hari kiamat), itu adalah buah dari upaya kebajikan ibunya. Ibrahim
naik dan turun merusak musuh. Musuh melihat keberanian anak muda ini,
mereka merasa harus mengambil tindakan karena kewalahan dengan Ibrahim
dan mereka membunuhnya. Ibrahim, meninggal sebagai syahid!.
Abdul Wahid mengabarkan, "kami kembali ke Basra", ummat menyambut
pasukan mujahidin dan diantara mereka ada Ummu Ibrahim, ia berkata,
"wahai Abu Ubayd, jika Allah menerima hadiahku, maka berikan selamat
kepadaku, jika tidak, kasihinilah aku". Abdul Wahid berkata, "Bushra,
Bushra, demi Allah!, Allah menerima hadiahmu dan Ibrahim tetap hidup,
Ibrahim diantara para syuhada".
"mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga
yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di
dalamnya; dan Itulah Sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal." (Al
Qur'an 3:169)
Kemudian, Ummu Ibrahim bersujud untuk bersyukur kepada Allah dan mengatakan "Alhamdulillah".
Di hari berikutnya ia mendatangi masjid dan berkata, "Bushra, Bushra,
wahai Abu Ubayd!, aku melihat anakku di dalam mimpi kemarin malam, ia
berada di taman yang hijau dengan menara hijau, bersandar pada kasur
yang terbuat dari mutiara putih, dengan mahkota di kepalanya, ia berkata
kepadaku, "mahar telah diterima dan kami merayakan pernikahan".
Ibu..tetaplah tabah, anakmu berada di jalan jihad. Ibu..disini para
musuh telah datang, musuhmu dan musuhku, 50 bangsa menyerang tanah ini,
dan bersama mujahidin aku mengangkat senjataku melawan mereka, dan kami
berharap kepada Allah untuk membiarkan kami menjadi duri di dalam
daging-daging para penindas, mereka akan menemukan kami keras (terhadap
mereka) selama darah masih mengalir di urat-urat nadi.
"Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama
dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih
sayang sesama mereka." (Al Qur'an 48:29)
Ibuku sayang..seperti janji Ibrahim kepada ibunya, aku berjanji
kepadamu bahwa aku akan memberikan yang terbaik tanpa kelalaian (insya
Allah), tujuan kami telah dipahami oleh para sahabat dan musuh-musuh
kita.
Ibuku tercinta, terhormat dan ibuku yang paling berharga, janganlah
bersedih dan tetaplah angkat kepalamu (tabah), berbahagialah, kita hidup
hampir di masa keemasan, dimana Allah Jalla Fi Ula, akan memenangkan kembali agamanya.
Ibuku sayang, jantung hatiku, maafkan aku, kelalaianku dan kesalahan-kesalahanku, berdo'alah untukku dan untuk ummat ini.
Jantung hatiku, pada perpisahan ini, aku ucapkan wa as salamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.
Do'a terakhir kami adalah Alhamdulillahi Robil ‘alamiin.
Abu Ibraheem
Semoga Allah memberkahinya dan mengkaruniakan kesyahidan kepadanya dan kepada seluruh mujahidin fisabilillah, Aamiin.
Ibu..bangga dan berbahagialah...anakmu seorang mujahid!
(siraaj/arrahmah.com)
Label:
Mujahid
Langganan:
Postingan (Atom)
Unknown