Tampilkan postingan dengan label Puisi Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Islam. Tampilkan semua postingan
| share: Kamis, 28 Juni 2012 |
Unknown
No comments
|
Safar Rumput Liar
Selembar kuncup hijau muncul
Di tengah padang gersang tak bertuan
Menyeruak mengagetkan alam
Barangkali selembar kuncup hijau itu
menambah satu warna di padang ini…
Sekuncup kemudian tumbuhlah seikat rumput liar
Aduhai dieman-eman oleh debu dan buaian angin kering
Satu purnama berlalu,
Rumput itu pun tumbuh dewasa
Mulai tampak kuncup baru,
Tapi kali ini kian bertambah bingung badai gurun
Karena kuncup baru ini berselimut kelopak …
Aneh …
Mungkin karena tak pernah ada rumput di situ
Bunga … iya … bunga rumput liar …
Bunga rumput itu mulai mekar satu tangkai
Memenuhi luas ruang padang cerianya
Bulan dan matahari semakin cepat hilir mudik bergantian
Tertegun penasaran melihat bunga rumput liar padang gersang
Hingga setangkai bunga rumput liar itu pun kini telah matang
Belahan demi belahan bagian bunga rumput itu pun berpamitan
Kepada penghuni padang gersang
Sang debu menasehatkan banyak pesan
Pergilah dengan selamat anak-anakku …
Angin mengantarkan kepergianmu
Gandenglah erat sinar bintang penuntunmu
Matahari dan bulan takkan enggan menjagamu
Sang awan gurun pun terharu menyaksikan …
Berangkatlah kalian esok hari,
Semoga air mata awan gurun malam ini
Memperteguh langkahmu esok hari
Sehelai demi sehelai tipis bagian bunga rumput itu
beranjak pergi
Penuh harapan penghuni padang gersang dan sang induk rerumputan
Mengantarkan kepergian mereka sang bunga-bunga beterbangan …
Semoga mereka menanamkan keceriaan
Di tempat-tempat mereka tinggal menetap
Satu bagian beranjak pergi
menatap bintang menuju kota besar
Semoga di sana aku dapat mengukir senyum penghuninya, ujarnya …
Berguru dari induknya yang menyegarkan padang gersang,
Sang bagian bunga itu pun mulai meletakkan bekalnya dan menetap
Aku pasti akan lebih hijau dan subur lagi di sini …
Karena di sini ada penghuni yang menyenangkan …
Iya … air yang menyegarkan …
Puikh … kenapa air ini?
Lebih jernih dari asalku tapi kenapa rasanya ini?
Air busukkah ini?
Ah tak mengapalah rasanya karena di sini lebih nyaman
Beberapa tunaspun tumbuh mengiringi kesuburan rumput liar tengah kota
Eit … kenapa di sini tak kulihat sapa dan kehangatan
Bukankah aku kalian butuhkan, kenapa kalian abaikan …
Harapan tak sesegar impian …
Beberapa gerombol rumput liar hijau menyegarkan itu ….
… tidak !!! tidak !!! …
Mereka dijambak kasar tangan-tangan yang lebih berdebu
Pergi kalian!!! Kata kasar mereka sembari menjambak menyakitkan
Penghuni kota itu lalu membangun gedung dan pencakar langit
Di tempat berteduh dan berbagi ceria bunga rumput liar
Kini rumput liar itu pun tergeletak lemas terkapar
Di tengah keranjang kehinaan …
Di padang gersang dipuja diperhatikan
Di tengah kota dibuang ditelantarkan
Label:
Puisi Islam
| share: |
Unknown
No comments
|
Keagungan Ilahi
Ratu malam sang rembulan
Raja siang sang matahari
Keduanya selalu bertentangan,
Tarik menarik
Dorong mendorong
Saling menguasai,
Seolah selalu bertanding tiada henti
Tiada yang kalah
Tak ada yang menag,
Karena dengan kedua sifat yang bertentangan ini
Seluruh alam semesta bergerak!
Dunia berputar,
Yang satu melengkapi yang lain
Tanpa yang satu
Saling mengisi,
Takkan ada yang lain,
Siang dan malam
Terang dan gelap
BAik dan jahat
Tanpa yang satu,
Apakah yang lain itu akan ada?
Tanpa adanya gelap,
Dapatkah kita mengenal terang?
Inilah sebuah kenyataan
Yang telah dikenhendaki Allah
Tanpa kehendaknya, takkan terjadi apa-apa
Keduanya selalu bertentangan,
Tarik menarik
Dorong mendorong
Saling menguasai,
Seolah selalu bertanding tiada henti
Tiada yang kalah
Tak ada yang menag,
Karena dengan kedua sifat yang bertentangan ini
Seluruh alam semesta bergerak!
Dunia berputar,
Yang satu melengkapi yang lain
Tanpa yang satu
Saling mengisi,
Takkan ada yang lain,
Siang dan malam
Terang dan gelap
BAik dan jahat
Tanpa yang satu,
Apakah yang lain itu akan ada?
Tanpa adanya gelap,
Dapatkah kita mengenal terang?
Inilah sebuah kenyataan
Yang telah dikenhendaki Allah
Tanpa kehendaknya, takkan terjadi apa-apa
Label:
Puisi Islam
| share: |
Unknown
No comments
|
Maulid Nabi Muhammad Saw
Yaa Nabi Yaa RasulullahCahaya hati kami, kekasih Allah
Anta syamsun anta badrun
Anta nurun fawqa nuri
Engkaulah surya yang menyinari kelamnya hati manusia
Engkaulah purnama penerang gelapnya jiwa manusia
Engkaulah cahaya di atas cahaya
Yaa Nabiyallah, Yaa Habiballah
Betapa mulia akhlaqmu
Bagai cahaya kemuliaan al-Quran
Besarnya perjuanganmu menegakkan agama
Agungnya cintamu menyayangi sesama
Harum senyummu pada wajah dunia
Betapa ramah sikapmu tertanam dalam jiwa
Betapa mulia akhlaqmu
Bagai cahaya kemuliaan al-Quran
Besarnya perjuanganmu menegakkan agama
Agungnya cintamu menyayangi sesama
Harum senyummu pada wajah dunia
Betapa ramah sikapmu tertanam dalam jiwa
Yaa Nabiyallah, Yaa Habiballah
Betapa indah akhlaqmu
Bagai cahaya keindahan al-Quran
Rindu kami padamu sepanjang waktu
Engkaulah cermin bagi hidup kami
Engkaulah petunjuk perjalanan kami
Engkaulah mata air hati dan pikiran kami
Wahai teladan yang tak pernah padam
Betapa indah akhlaqmu
Bagai cahaya keindahan al-Quran
Rindu kami padamu sepanjang waktu
Engkaulah cermin bagi hidup kami
Engkaulah petunjuk perjalanan kami
Engkaulah mata air hati dan pikiran kami
Wahai teladan yang tak pernah padam
Yaa Nabiyallah, Yaa Habiballah
Betapa suci akhlaqmu
Bagai cahaya kesucian al-Quran
Hadirkanlah cintamu dalam ibadah kami
Ajarkanlah ketabahanmu dalam doa kami
Mengalirlah jihadmu dalam hati kami
Tumbuhkanlah akhlaqmu dalam hidup kami
Betapa suci akhlaqmu
Bagai cahaya kesucian al-Quran
Hadirkanlah cintamu dalam ibadah kami
Ajarkanlah ketabahanmu dalam doa kami
Mengalirlah jihadmu dalam hati kami
Tumbuhkanlah akhlaqmu dalam hidup kami
Yaa Nabi Yaa Rasulullah
Pujaan hati kami, kekasih Allah
Anta syamsun anta badrun
Anta nurun fawqa nuri
Engkaulah surya, engkaulah purnama
Engkau cahaya di atas cahaya..
Dari : Al-Wahid Ulul Albab
Pujaan hati kami, kekasih Allah
Anta syamsun anta badrun
Anta nurun fawqa nuri
Engkaulah surya, engkaulah purnama
Engkau cahaya di atas cahaya..
Dari : Al-Wahid Ulul Albab
Label:
Puisi Islam
| share: |
Unknown
No comments
|
Tetaplah Disisiku
Ya Allah…
Dimanakah ku harus berlabuh…
Saat semua dermaga menutup pintu,
Dan berkata “ ini bukan untukmu…”
“Segara menjauh karna disini bukan tempatmu….!!!”
Dimanakah ku harus berlabuh…
Saat semua dermaga menutup pintu,
Dan berkata “ ini bukan untukmu…”
“Segara menjauh karna disini bukan tempatmu….!!!”
Ya Allah…
Katakan padaku, dermaga untukku berlabuh…???
Agar ku segera menghela nafas kehidupan yang baru.
Sampai kapan ku harus arungi waktu,..
Ku lelah Menunggu suatu yang tak pasti walau hanya Satu,..
Katakan padaku, dermaga untukku berlabuh…???
Agar ku segera menghela nafas kehidupan yang baru.
Sampai kapan ku harus arungi waktu,..
Ku lelah Menunggu suatu yang tak pasti walau hanya Satu,..
Ya Allah …
Beri aku penerang jalan-Mu
Agar tak tersesat saat ku melaju,..
Kuatkan awak kapalku,
Saat badai menghalangi jalanku
Beri aku penerang jalan-Mu
Agar tak tersesat saat ku melaju,..
Kuatkan awak kapalku,
Saat badai menghalangi jalanku
Ya Allah …
Tetaplah disisiku,
Jangan Engkau menjauh dariku…
Karna ku mati tanpa hadir-Mu
Dari : Al-Wahid Ulul Albab
Tetaplah disisiku,
Jangan Engkau menjauh dariku…
Karna ku mati tanpa hadir-Mu
Dari : Al-Wahid Ulul Albab
Label:
Puisi Islam
| share: |
Unknown
No comments
|
Tafakur
Di keheningan malam ku ketuk rumah-Mu
Bercucurlh air mataku
Meminta belaian kasih-Mu
Menghapus setumpuk dosaku
Ini tubuh berlumpur-lumpur
Terendam di dalam kubur
Hidup hanyalah penghibur
Tak tau arti bersyukur
"Astagfirullahhaladziim...
Begitu dzolimnya aku...
Begitu tamaknya aku...
Begitu hinanya diriku...
Seandainya ada seberkas cahaya ampunan-Mu,
Ku juhudkan diriku dari keduniawian...
Bercucurlh air mataku
Meminta belaian kasih-Mu
Menghapus setumpuk dosaku
Ini tubuh berlumpur-lumpur
Terendam di dalam kubur
Hidup hanyalah penghibur
Tak tau arti bersyukur
"Astagfirullahhaladziim...
Begitu dzolimnya aku...
Begitu tamaknya aku...
Begitu hinanya diriku...
Seandainya ada seberkas cahaya ampunan-Mu,
Ku juhudkan diriku dari keduniawian...
Label:
Puisi Islam
| share: |
Unknown
No comments
|
Kini Ku Sadari
Karena jahil silaulah mata Oleh gemerlap dan indahnya dunia
Kuturuti nafsu angkara murka Seakan dunia tiada pana
Kini kusadari Sejauh apapun kaki ini melangkah
Tak akan mampu aku menghindari-Mu
Kemanapun wajah ini kupalingkan
Tak kan lepas aku dari tatapan-Mu
Alangkah pekatnya noda hitamnya tiada tara
Betapa rugi yang ku derita
Semoga taubatku kan KAU terima
Wahai Penguasa alam semesta
Aku lemah tiada berdaya
Duhai Pencipta seisi jagat raya
Ampuni aku atas segala dosa
Kuturuti nafsu angkara murka Seakan dunia tiada pana
Kini kusadari Sejauh apapun kaki ini melangkah
Tak akan mampu aku menghindari-Mu
Kemanapun wajah ini kupalingkan
Tak kan lepas aku dari tatapan-Mu
Alangkah pekatnya noda hitamnya tiada tara
Betapa rugi yang ku derita
Semoga taubatku kan KAU terima
Wahai Penguasa alam semesta
Aku lemah tiada berdaya
Duhai Pencipta seisi jagat raya
Ampuni aku atas segala dosa
Label:
Puisi Islam
Langganan:
Postingan (Atom)
Unknown
.jpg)
.jpg)

.jpg)
